jangan putus asa

jangan putus asa

24 April 2015

Kelebihan ABC...Z

Kelebihan ABC...Z

A llah

B eri kita hidup

C uma seketika

D i dunia ini...

E lok kita muhasabah

F ikir akan akhir hayat

G erbang akhirat pun

H ampir tiba

I nilah hakikat hidup

J anji Allah itu pasti

K alimah syahadah

L ailaha Illallah

MuhammadurRasulullah

N ak di ucap tak pasti

O rang muda atau tua

P asti merasai mati

Q ualiti Iman jaminan syurga

R asulullah s.a.w sabda :

S iapa ucap jaminannya syurga

T api..jika gagal...

U ntuk mereka adalah neraka

V isi kita adalah akhirat

W alaupun dunia dpn kita

Y ang pasti semua akan tinggal...

Z alimnya kita jika tak ada Iman dn Amal...

PLZ jgn simpan utk diri sndiri tp share  kan kpd other 

HANTAR KE 5 GRUP DAN  BUNGA ITU AKAN MENGEMBANG TERUS MEMBUKA NAMA ANDA.......
                      ?                                                                           
SAYA PUN DAH MENCUBA

  jadi sungguh weh. Mulo2 xcayo tp bilo try buat yolo. Biso3

Jika Allah Mencintai Seorang Hamba

Jika Allah Mencintai Seorang Hamba
Rasulullah saww bersabda : ”Jika Allah mencintai seorang hamba maka Allah berikan cobaan baginya. Dan jika Allah mencintainya dengan kecintaan yang sangat maka Allah akan mengujinya .”
Para sahabat Nabi bertanya : ”Apakah ujiannya?”
Rasulullah saww menjawab : “Tidak sedikit pun Allah tinggalkan baginya harta dan anak” 1]
ALLAH ILHAMKAN KETAATAN KEPADANYA
Imam Ja’far al-Shadiq as berkata,”Jika Allah mencintai seorang hamba, Allah ilhamkan kepadanya ketaatan, Allah biasakan ia dengan qana’ah (menerima apa yang ada), Allah karuniakan baginya pemahaman agama, Allah menguatkannya dengan keyakinan, Allah cukupkan baginya dengan sifat al-kafaf , Allah memakaikannya dengan sifat al-‘afaf . Sebaliknya jika Allah membenci seorang hamba maka Allah jadikan dia mencintai harta dan Allah mudahkan baginya untuk memperolehnya, Allah ilhamkan kepadanya dunianya, Allah serahkan dia pada hawa nafsunya, maka ia mengendarai al-‘inaad , ia mudah berbuat
fasad, dan menzhalimi hamba-hamba (Tuhan)” 2]
Sesungguhnya Allah mengilhamkan kepada jiwa semua manusia ketaatan dan maksiat, namun beruntunglah orang yang mengambil ilham ketaatan dan merugilah orang yang mengambil ilham kemaksiatan.
“Maka Allah ilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaan, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya dan merugilah orang yang mengotorinya .” (QS Al-Syams [91] : 8-9)
Dan Allah mencintai orang yang terilhami oleh ketaatan dan ketakwaan, lalu ia bersegera menyucikan jiwanya dengan melakukan ketaatan dan ketakwaan.
Seseorang mengeluh kepada Imam al-Shadiq as tentang ketamakannya yang kian hari bertambah. Imam as menasihatinya, ”Jika engkau merasa beruntung dengan memiliki apa yang mencukupimu, maka engkau akan merasa cukup dengan kebutuhan terkecil dunia ini. Sebaliknya jika engkau tidak merasa puas dengan memiliki kebutuhan-kebutuhan minimum dunia ini, maka seluruh kesenangan duniawi takkan bakal mencukupimu .” 3]
Mengenai pemahaman akan agama, Rasulullah saww bersabda, ”Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan bagi dirinya, niscaya Dia karuniakan pemahaman akan agama” 4]
Tentang al-Kafaf , yaitu merasa cukup dengan rezeki yang memadai. Sifat al-kafaf ini tidak berbeda jauh dengan Qana’ah . Ada pun al-‘Afaf , adalah sifat menjaga kehormatan diri dari perbuatan-perbuatan hina. Diriwayatkan oleh Imam al-Shadiq as bahwa Imam Ali as berkata, ”Seutama-utama ibadah adalah al-‘afaf ” 5] .
Dan sabda Rasulullah saww, ”Sesungguhnya Allah mencintai seorang yang pemalu, yang menjaga dirinya dari perbuatan-perbuatan yang hina (al-hayya al-muta’affif )” 6]
Ada pun ‘inad adalah sifat keras kepala (stubborn). Al Qur’an mengatakan,”Dan merugilah setiap orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala!” (QS Ibrahim [14] ayat 15), ‘Allamah Baqir al-Majlisi menafsirkan ayat tersebut, ”Merugilah orang yang sombong, disebabkan keberpalingannya dari kebenaran .” 7]
ZIKIR SEBAGAI CERMIN CINTA
Rasulullah saww bersabda, ”Wahai Tuhan, beritahukanlah kepadaku orang yang Engkau cintai sehingga aku dapat mencintainya?”
Maka Allah SwT pun berfirman, ”Jika engkau melihat hamba-Ku yang banyak berzikir kepada-Ku lalu Aku izinkan dia untuk berbuat yang demikian itu maka berarti Aku mencintainya. Dan apabila engkau melihat hamba-Ku yang tidak berzikir kepada-Ku lalu Aku hijab dia dari hal yang demikian itu, maka berarti Aku benci kepadanya .” 8]
UJIAN SEBAGAI BENTUK PENDIDIKKAN MENTAL DAN SPIRITUAL
Sebagian orang menganggap ujian merupakan sesuatu yang buruk. Padahal hakikatnya, ujian maupun kesulitan merupakan hal yang bermanfaat dan memiliki dampak positif bagi orang-orang yang tegar (sabar) dalam menghadapinya. Karenanya, mereka berhak mendapatkan berita gembira dan kebaikan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ”Dan sungguh akan Kami uji kalian dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa serta buah-buahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar .” (QS Al-Baqarah [2] ayat 155)
Untuk pengajaran dan pendidikan jiwa manusia, Allah mempersiapkan dua program: program tasyri’i , dan program
takwini . Kesulitan dan kesusahan, keduanya ada dalam dua program Tuhan tersebut. Di dalam program tasyri’iy , diwajibkanlah manusia beribadah. Dan pada program
takwini , dijadikanlah kesulitan pada setiap awal perjalanan yang dilalui oleh semua manusia.
Program tasyri’iy berada di dalam kewajiban-kewajiban seperti : puasa, hajji, jihad, infaq, amar ma’ruf nahi munkar, tawalla dan tabarra, khumus dan shalat, kesemuanya itu terdapat kesulitan dan kesukaran yang muncul sebagai kewajiban dari syari’at (taklif syar’iy ). Sedangkan kesabaran di dalam menghadapinya dan
istiqamah (teguh dan tetap) sewaktu melaksanakannya pasti dapat menyempurnakan jiwa dan mendidik (menggembleng) kesiapan-kesiapan jiwa yang andal bagi manusia.
Permasalahan ini tidak bertentangan dengan prinsip bahwa agama (Islam) tidak bermaksud untuk mempersulit manusia. Maksud sesungguhnya dari prinsip ini bukan berarti bahwa agama itu kosong dari tugas-tugas atau kewajiban-kewajiban (taklif) dan latihan (tamrin), melainkan bahwa di dalam agama tidak ada perintah-perintah yang akan menghalangi kemajuan manusia dan akan memenjarakan aktivitas (dan kreavitas) nya yang benar.
Semua hukum-hukum agama telah ditetapkan (oleh Tuhan) untuk tidak membelenggu tangan dan kaki, tetapi juga tidak mendorong manusia untuk malas, lengah dan lalai.
Sedangkan program takwini berada di dalam kelaparan, ketakutan, kerugian material serta hilangnya jiwa merupakan kesulitan-kesulitan yang diciptakan oleh hukum
takwini yang mau tidak mau harus dihadapi oleh semua manusia (sebagai sunatullah atau biasa disebut hukum alam). 9]
UJIAN DAN COBAAN SEBAGAI BUKTI CINTA TUHAN
Apabila Allah Swt secara khusus menyayangi seorang hamba-Nya, niscaya Dia akan menhadapkannya pada berbagai kesulitan dan kesusahan. Imam Muhammad al-Baqir as berkata, ”Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menjanjikan ujian dan cobaan kepada seorang mukmin sebagaimana seorang suami menjanjikan kepada isterinya dengan hadiah yang dirahasiakan (disembunyikan)-nya .” 10]
Atau dalam hadits lainnya, Imam Ja’far al-Shadiq as berkata, ”Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba niscaya Dia tenggelamkan hamba tersebut ke dalam cobaan.” 11]
Hal ini bisa dicontohkan dengan seorang pelatih renang. Sewaktu ia diminta untuk melatih seseorang agar bisa berenang, maka ia akan melatih orang tersebut dengan mengerahkan segenap kemampuannya agar orang itu bisa berenang. Sama saja dengan Allah SwT ketika mencintai seorang hamba, maka Dia akan mendidiknya – untuk mencapai kesempurnaan – dengan mengujinya dengan berbagai cobaan.
Seseorang yang ingin pandai berenang, tetapi hanya bermodal dengan membaca buku teori renang tanpa menceburkan dirinya ke kolam renang, pasti seumur hidupnya ia tidak akan pernah bisa berenang. Seseorang yang sungguh-sungguh ingin pandai berenang harus berada di dalam air dan berlatih dengan mencoba bertarung dengan air agar tidak tenggelam.
Bahkan kadang-kadang seseorang yang sedang belajar berenang harus menghadapi maut ketika ia berenang jauh ke tengah laut. Tidak bisa tidak seseorang harus pernah menghadapi kesulitan-kesulitan sejak ia berada di dunia ini, sehingga ia bisa belajar menyelamatkan diri darinya. Ia harus pernah menghadapi kesukaran-kesukaran hidup, sehingga ia menjadi lebih dewasa dan matang. 12]
TIIDAK ADA KEBAIKAN BAGI ORANG YANG TIDAK PERNAH DITIMPA MUSIBAH
Suatu hari, Rasullah saww diundang ke rumah salah seorang Muslim. Sewaktu beliau tiba di rumahnya, beliau melihat seekor ayam sedang bertelur di sebuah sarang di samping rumah. Beliau melihat telor ayam tersebut tidak jatuh, dan kalaupun jatuh ternyata tidak pecah. Betapa takjubnya Rasullah saww melihat kejadian tersebut.
Karena itu, pemilik rumah tersebut bertanya kepada beliau, “Engkau heran melihatnya, ya Rasullah? Demi Allah yang telah memilih Anda sebagai Nabi, sesungguhnya saya selama ini tidak pernah sakit”
Rasulullah segera meninggalkan rumah tersebut, seraya berkata, “Barangsiapa yang tidak pernah mengalami musibah, maka ia jauh dari kasih sayang Allah.” 13]
SEMAKIN TINGGI TINGKAT SPIRITUAL SESEORANG SEMAKIN BERAT UJIANNYA
Diriwayatkan bahwa Imam Al-Shadiq as berkata, “Sesungguhnya disebutkan di dalam kitab ‘Ali bahwa yang paling berat cobaannya di antara semua manusia adalah para nabi, dan setelah mereka adalah para washiy (para Imam Ahlul Bait as), dan setelah mereka adalah orang-orang pilihan yang seperti mereka. Sungguh orang mukmin pasti mengalami cobaan sesuai dengan kadar amal baiknya. Maka, orang yang baik agamanya dan baik pula amalnya akan lebih berat cobaannya. Hal itu disebabkan Allah SwT tidak menjadikan dunia ini sebagai tempat memberi pahala bagi orang mukmin dan tempat menyiksa orang yang ingkar. Dan orang yang lemah imannya dan buruk amalnya, akan lebih ringan cobaannya. Sesungguhnya, cobaan itu menimpa orang beriman lebih cepat daripada air hujan yang turun ke bumi .” 14]
Sesungguhnya manusia yang paling keras cobaannya ialah para Nabi, kemudian orang-orang setelah mereka, dan selanjutnya orang-orang setelah mereka yang layak mendapatkan cobaan seperti mereka. Para penyusun kitab-kitab hadis, membuat bab khusus mengenai kerasnya cobaan yang dihadapi oleh Amir Al-Mu’minin, para Imam dan putra-putranya.
Cobaan yang dihadapi oleh para kekasih Allah, pada dasarnya, adalah kasih sayang-Nya yang dikemas dengan penderitaan, sebagaimana halnya dengan kenikmatan dan kesehatan yang dialami oleh mereka yang dimurkai oleh Allah, yang pada dasarnya merupakan siksaan untuk mereka yang dikemas dalam bentuk kenikmatan, dan kemurkaan dengan bentuk kasih sayang. 15]
Imam al-Shadiq as berkata, ”Besarnya pahala seseorang sebanding dengan besarnya penderitaannya dan tidaklah Allah mencintai seorang hamba kecuali Dia menghadapkannya dengan penderitaan” 16]
Bala’ yang berarti ujian dan cobaan dapat terjadi pada manusia yang baik maupun yang jahat. Bala’ dan ibtila’ , tidak hanya terbatas hanya berupa penyakit berat atau ringan, atau kesengsaraan, seperti kemiskinan, penghinaan, dan kehilangan keuntungan-keuntungan duniawi.
Bahkan seperti kekuasaan, kebesaran, kekayaan, ketinggian status, kehormatan, dan yang semacam itu juga merupakan bentuk lain dari ujian dan cobaan.
Tetapi dalam konteks hadits dari Imam al-Shadiq as di atas, bala’ yang dimaksudkan adalah bala’ dalam pengertian yang pertama, yang berupa penderitaan dan kesengsaraan.
BALA ‘ MERUPAKAN UJIAN SARINGAN
Imam Ali bin Abi Thalib as berkata : “Demi yang mengutusnya (Muhammad saww) dengan kebenaran, kamu benar-benar akan dicampur baurkan dan kemudian dipisahkan dalam saringan (ujian dan penderitaan). ” (Nahjul Balaghah hal. 57, Khutbah ke 16, Syarah Dr. Subhi Shalih)
Dalam hadits lainnya, Imam al-Shadiq as berkata, ” Sudah merupakan kemestian bagi manusia bahwa mereka mesti dibersihkan, dipisahkan dan disaring sehingga sejumlah besar dari mereka dikeluarkan dari saringan itu.” 17]
Diriwayatkan dari Imam Musa al-Kazhim as, ketika beliau membaca ayat, ” Alif Laam Miim, Apakah manusia itu mengira dibiarkan mengatakan : ‘Kami telah beriman!’ sedang mereka tidak diuji lagi ?” (QS Al-‘Ankabut [29] : 1-3) kemudian beliau as berkata, ”Ujian yang dimaksud dalam ayat ini adalah ujian dalam agama .” Kata beliau lagi, ”Mereka akan dibakar dan dibersihkan sebagaimana dibakar dan dibersihkannya emas (dari karat dan kotorannya)! ” 18]
Setiap dada tanpa Kekasih
adalah tubuh tanpa kepal,
Manusia yang jauh dari perangkap cinta
adalah burung tanpa sayap
~ Rumi 19]

17 April 2015

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.

● Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia
berkata:
#Rasulullah saw. bersabda: Allah Taala
berfirman: [Aku sesuai dengan
persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku
dan Aku selalu bersamanya ketika dia
mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-
Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan
mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila
dia mengingat-Ku dalam suatu jemaah
manusia, maka Aku pun akan
mengingatnya dalam suatu kumpulan
makhluk yang lebih baik dari mereka.]
#"Apabila dia mendekati-Ku sejengkal,
maka Aku akan mendekatinya sehasta."
#"Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka
Aku akan mendekatinya sedepa." #"Dan
apabila dia datang kepada-Ku dengan
berjalan, maka Aku akan datang
kepadanya dengan berlari." #(Shahih
Muslim No.4832)#

12 April 2015

CERITA seekor katak

Ada seekor katak  yg nampak nelayan.. sedang memancing... Jadi katak  itu pun masuk kedalam air  dan ingin berjumpa ikan . Katak itu tegur ikan  yg sedang memakan umpan nelayan.. itu.Katak  itu beritahu pada ikan  "jangan makan cacing  ni, sebenarnya ini perangkap.
Kalau kau makan juga, kau akan di tangkap, perut kau akan di belah.., kulit kau akan dibakar atas  api . mereka akn makan kau ( sebabnya katak  ini tahu keadaan di atas darat )".
Tapi ikan  ini tak ambil endah teguran si katak  dan bila sahaja ikan  itu makan umpan itu, ikan itu di sentap dan ditarik naik keatas.., ikan itu terkejut, dia nampak apa yang dikatakan oleh katak  sebenar adalah benar. Dia yakin yg dia akan di bakar , kulitnya akan disiat.., perutnya akan dibelah. Ikan  itu sangat menyesal...Tapi, tak ada dah peluang untuk kembali dalam air.
Ulama' beritahu.
Keadaan sama pada kita manusia ....bila ada orang  beritahu kepada kita keadaan kita nanti, padang masyhar, balasan neraka, balasan syurga️, azab neraka..,titian sirat, kita ambil tak endah saja.
Bila sudah mati ,hijab akhirat akan dibuka.Kita nampak manusia yg dibakar atas api  . Orang yg akan diseksa kerana melakukan maksiat dan kemungkaran. Seperti mana keadaan ikan  telah nampak apa yg berlaku di atas darat.
Sahabatku yg disayangi Allah. Kita hanya ada satu peluang sahaja untuk beramal di dunia ini.
Jadi jangan bazirkan usia    dan keringat kita perkara yg sia-sia, terutamanya bab akidah pegangan kita islam. semoga Allah beri kita kefahaman . Aamiin Allahumma Aamiin...

31 Mac 2015

Walau tak ada ORANG - TAPI ALLAH ada

Walau tak ada ORANG sayang kita ..
- TAPI ALLAH ada dekat di hati kita ..
Walau tak ada ORANG cinta kita ..
- TAPI ALLAH sentiasa KASIHI kita ..
Walau tak ada ORANG tolong kita ..
- TAPI ALLAH ada LINDUNGI kita ..
Walau tak ada ORANG rindu kita ..
- TAPI ALLAH tetap tunggu kita ..
Walau tak ada ORANG jaga kita ..
- TAPI ALLAH perhatikan kita ..
Walau tak ada ORANG dengan kita ..
- TAPI ALLAH ada temankan kita ..

#⛅⛅⛅

15 Mac 2015

YANG...

YANG.....
Yang singkat itu - "waktu"
Yang menipu itu - "dunia"
Yang dekat itu - "kematian"
Yang besar itu - "hawa nafsu"
Yang berat itu - "amanah"
Yang sulit itu - "ikhlas"
Yang mudah itu - "berbuat dosa"
Yang susah itu - "sabar"
Yang lupa itu - "bersyukur"
Yang membakar amal itu - "megumpat"
Yang ke neraka itu - "lidah"
Yang berharga itu - "iman"
Yang mententeramkan hati itu - "teman sejati"
Yang ditunggu Allah S.w.t itu -"taubat"
(Imam Al Ghazali)
Yang tak c/p -kedekut..... �� �� ��

14 Mac 2015

SUDAHKAH IBADAH KITA SESUAI DENGAN PETUNJUK RASULULLAH ??

DAHKAH IBADAH KITA SESUAI DENGAN PETUNJUK
RASULULLAH ?? 

SUDAHKAH IBADAH KITA SESUAI
DENGAN PETUNJUK
RASULULLAH ??

Maka Telitilah Sebelum Diamalkan,

“Dan janganlah
kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati,
semuanya itu akan dimintai pertanggung
jawaban” [Al-Israa : 36]

CARA MENGGAPAI HATI YANG
ISTIQOMAH

Menggapai Hati yang Istiqomah
Allah ta’ala telah berfirman,

“Yaitu hari yang harta dan anak-anak tidak akan
memberi manfaat, kecuali orang-orang yang datang
menghadap Allah dengan membawa hati yang
selamat”(Asy Syu’ara : 88-89)

“Sesungguhnya di dalam tubuh anak Adam ada
segumpal daging; apabila segumpal daging itu baik
maka seluruh tubuhnya akan baik. Segumpal daging
itu adalah hati.” (HR Muslim dan Baihaqi)

CARA MENCAPAI HATI YANG ISTIQOMAH
Hati adalah sumber kebaikan dan keburukan
seseorang. Bila hati penuh dengan ketaatan kepada
Allah, maka perilaku seseorang akan penuh dengan
kebaikan. Sebaliknya, bila hati penuh dengan
syahwat dan hawa nafsu, maka yang akan muncul
dalam perilaku adalah keburukan dan kemaksiatan.
Keburukan dan kemaksiatan ini bisa datang karena
hati seseorang dalam keadaan lengah dari dzikir
kepada Allah.

Ibnul Qoyyim al-Jauziyah berkata, “Apabila hati
seseorang itu lengah dari dzikir kepada Allah, maka
setan dengan serta merta akan masuk ke dalam
hati seseorang dan mempengaruhinya untuk berbuat
keburukan. Masuknya setan ke dalam hati yang
lengah ini, bahkan lebih cepat daripada masuknya
angin ke dalam sebuah ruangan.”
Oleh karena itu, hati seorang mukmin harus
senantiasa dijaga dari pengaruh setan ini. Yaitu,
dengan senantiasa berada dalam sikap taat kepada
Allah SWT. Upaya inilah yang disebut dengan
Istiqamah.

Imam al-Qurtubi berkata, “Hati yang istiqamah
adalah hati yang senantiasa lurus dalam ketaatan
kepada Allah, baik berupa keyakinan, perkataan,
maupun perbuatan.” Lebih lanjut beliau mengatakan,
“Hati yang istiqamah adalah jalan menuju
keberhasilan di dunia dan keselamatan dari azab
akhirat. Hati yang istiqamah akan membuat
seseorang dekat dengan kebaikan, rezekinya akan
dilapangkan dan akan jauh dari hawa nafsu dan
syahwat. Dengan hati yang istiqamah, maka
malaikat akan turun untuk memberikan keteguhan
dan keamanan serta ketenangan dari ketakutan
terhadap adzab kubur. Hati yang istiqamah akan
membuat amal diterima dan menghapus dosa.”

Lalu bagaimanakah caranya menggapai hati untuk
istiqomha…………..??????

Ada banyak cara untuk menggapai hati yang
istiqamah ini.
Di antaranya:

Pertama, meletakkan cinta kepada Allah SWT di
atas segala-galanya.
Ini adalah persoalan yang tidak mudah dan butuh
perjuangan keras. Karena, dalam kehidupan sehari-
hari kita sering mengalami benturan antara
kepentingan Allah dan kepentingan makhluk, entah
itu kepentingan orang tua, guru, teman, saudara,
atau yang lainnya. Apabila dalam kenyataanya kita
lebih mendahulukan kepentingan makhluk, maka itu
pertanda bahwa kita belum meletakkan cinta Allah
di atas segala-galanya.
Padahal, Allah Subhanahu Wata’ala telah
menegaskan bahwa siapa yang lebih mencintai
sesuatu selain Allah, maka ia justru akan tersiksa
dengan rasa cintanya itu. Siapa yang takut karena
selain Allah, maka ia justru akan dikuasai oleh rasa
takutnya itu. Siapa yang sibuk dengan selain Allah,
maka ia akan mengalami kebosanan dan siapa yang
mendahulukan yang lain daripada Allah, maka ia
tidak akan mendapatkan keberkahan dari-Nya.

Kedua, membesarkan perintah dan larangan Allah .
Membesarkan perintah dan larangan Allah harus
dimulai dari membesarkan dan mengagungkan
pemilik perintah dan larangan tersebut, yaitu Allah
Subhanahu Wata’ala.

Allah Subhanahu Wata’ala
berfirman yang artinya,

“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran
Allah.” Ulama dalam menafsirkan ayat ini
mengatakan, “Mengapa kalian tidak takut akan
kebesaran Allah.”
Membesarkan perintah Allah di antaranya adalah
dengan menjaga waktu salat, melakukannya dengan
khusyu, memeriksa rukun dan kesempurnaannya
serta melakukannya secara berjamaah.

Ketiga, senantiasa berzikir kepada Allah.
Zikir adalah wasiat Allah kepada hamba-hamba-
Nya dan wasiat Rasulullah kepada ummatnya.

Dalam sebuah hadis qudsi Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman, “Barangsiapa yang mengingat-
Ku di dalam dirinya, maka Aku akan mengingat-Nya
dalam diri-Ku. Dan barang siapa yang mengingat-
Ku dalam kesibukan, maka Aku akan mengingat-Nya
dalam kesibukan yang lebih baik darinya.” (HR
Bukhari).

Keempat, Mempelajari kisah orang-orang saleh
terdahulu.
Hal ini diharapkan agar kita bisa mengambil
pelajaran dari mereka. Bagaimana kesabaran
mereka ketika menghadapi ujian yang berat,
kejujuran mereka dalam bersikap, dan keteguhan
mereka dalam mempertahankan keimanan.
Allah SWT berfirman, “Sungguh dalam kisah-kisah
mereka terdapat ibrah (pelajaran) bagi orang yang
memiliki akal, ….”

Kelima, senantiasa berpikir tentang kebesaran
ciptaan Allah.
Allah SWT memiliki ciptaan yang indah dan besar.
Dengan memikirkan ciptaannya diharapkan bisa
menyadari betapa besar kekuasaan Allah terhadap
ciptaan-Nya itu. Allah SWT berfirman, “Wahai
manusia, telah diberikan kepada kalian beberapa
permisalan, maka dengarkanlah (perhatikanlah)
permisalan itu. Sesungguhnya orang-orang yang
engkau seru selain Allah, mereka tidak akan mampu
untuk menciptakan lalat, meskipun untuk
melakukannya itu mereka berkumpul bersama…”

Keenam, Kenalilah Allah dengan nama-nama-Nya
yang mulia / asmaul husna.
Knalilah Allah dengan nama dan sifat-sifatnya,
niscaya hatimu akan lembut dan menjadi terarah ke
jalan yang lurus.
Semakin kita mengenal Allah akan terbentuk rasa
cinta kepada Allah, Rasa Takut Kepada Allah dan
Rasa Harap kepada Allah. Rasa itulah yang akan
selalu menuntun hati kita untuk selalu istiqomah di
jalan-Nya.

Demikianlah beberapa hal yang akan mengantarkan
kita kepada hati yang istiqamah. Dan mudah-
mudahan saja kita bisa mendapatkannya.

Semoga Bermanfaat.

Allahu A’lam